Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Apa yang sesungguhnya dapat diketahui sebuah negara tentang dunia yang hendak diperintahnya, dan apa yang dikorbankannya akibat cara yang dipilihnya untuk mengetahui? Buku ini membaca intelijen sebagai sebuah bentuk pengetahuan: sebelum seorang analis menilai sinyal, institusi sudah lebih dulu memutuskan sinyal mana yang layak dihitung sebagai informasi.Dari Allen Dulles dan epistemologi Perang Dingin, kesaksian perwira intelijen Indonesia, Hendropriyono dan persoalan akuntabilitas, Oleg Kalugin, Antonio Mendez, hingga Mossad, KGB dan siloviki, serta Operasi Paperclip, buku ini menelusuri bagaimana dinas rahasia membangun, menyimpan, dan membatasi pengetahuannya.Bagian terakhir membawa pembaca ke kosmologi Nusantara: Barus, wongke, kekuasaan sebagai rasa, wafak, dan mandala. Di sini penulis merumuskan gagasan meta-intelijen, yaitu cara memahami kategori yang dipakai negara untuk menata ancaman. Buku ini sepenuhnya bersandar pada sumber terbitan dan tidak memuat bahan berklasifikasi.